Nov
20
Sadikin ialah muridku kelas VI. Anak kelahiran 25 April 2018 ini sudah menarik perhatianku sejak dihari-hari awal penempatan. Memang rumahnya juga di belakang sekolah pas, sehingga dirinya sering bermain ke perpustakaan. Bahkan sering pula dimintai tolong untuk membeli obat nyamuk, gula, ataupun menanyakan ada buah apa di pekan/pasar. Sadikin menurutku seorang MVP hampir di seluruh macam permainan. Dari segi akademiknya pun juga Sadikin tergolong anak yang pandai karena selalu masuk ranking tiga besar. Anaknya lincah, sering mencetak gol saat bermain bola, tapi tetap sholeh luar biasa. Tiap sore rajin sekolah agama, dilanjutkan membaca alquran malam harinya. Ceritaku tentang Sadikin bertambah ketika dirinya lah yang terpilih untuk mewakili sekolah dalam lomba kaligrafi tingkat Kabupaten. Dengan persiapan yang mepet (hanya dua malam) Sadikin membuktikan ketekunannya. Kegigihannya untuk datang belajar menggores tinta ditengah hujan, dan kesungguhannya untuk mau mendengarkan saran demi perbaikan. Lomba kaligrafi kali ini pun sangat bergengsi karena para peserta langsung menuju kota Kabupaten. Selepas subuh aku dan Sadikin sudah berangkat dari desa, karena waktu perjalanan menghabiskan sekitar dua jam. Sehari sebelumnya pun seragam merah putih dicuci dan disetrika ibu terlebih dahulu, untuk memberikan penampilan yang terbaik. Setelah sampai di arena perlombaan kami pun bertemu dengan peserta lain dan juga ada anak didik dari teman-teman Indonesia Mengajar yaitu Nia dari Lae Balno dan Nurul dari Kuala Baru. Ternyata kami bertiga merasakan hal yang sama, karena waktu tempuh yang lama untuk menuju kabupaten secara penampilan dan kerapian kami merasa kalah jauh dibanding kerapian dan kebersihan anak kota. Kami merasa kucel dan baru terasa bahwa kami memang berada di pelosok. Tapi hal tersebut tak menjadi masalah berarti, karena kami terus menyemangati anak-anak kami untuk memberikan yang terbaik. Sebelum perlombaan dimulaipun Sadikin terlihat gugup dan meminta diantar ke toilet. Disanalah dia bilang bahwa badannya terasa dingin. Aku mencoba menenangkannya, aku hanya berpesan bahwa "Sadikin santai saja, tarik nafas panjang, tak usah tengok kanan kiri, yang penting Sadikin senang. Dan menunjukkan karya terbaiknya" Entah karena minder dan takut kalah, aku merasa aura Sadikin agak tertekan. Tapi aku juga kembali menyemangatinya dan menunjukkan pesan guru-guru di sekolah yang terus menyemangatinya. Bahkan Sadikin sempat bertanya "Kalau aku kalah gakpapa kan Pak Guru?" mendengar hal itu aku hanya tersenyum dan menjawab "ya namanya lomba pasti ada yang kalah ada yabg menang, kalau menang ya alhamdulillah. Kalau kalah ya tetap alhamdulillah juga, karena sudah punya pengalaman dan bisa sampai di Singkil." Perlombaan berlangsung sekitar empat jam. Dan disela-selanya ada istirahat untuk sholat dan makan. Selama itu pula aku hanya mencoba menyemangatinya dan tidak terlalu mengekang Sadikin harus ini dan itu, hanya berpesan untuk memberikan nama dalam pengumpulan kaligrafinya nanti. Ternyata pengumuman perlombaan belum diumumkan sore itu juga, melainkan nanti malam dikirim via wa, itupun harus bertanding lagi besok untuk final enam besar. Kami pun pulang bersamaan dengan peserta dari SD desa sebelah. Dalam perjalanan pulang, Sadikin kutawari apakah dia ingin singgah di pantai dulu atau bermain kemana dulu, tapi dia bilang terserah. Sehingga akhirnya ku putuskan untuk singgah di Rimo untuk sekedar makan bakso, membeli martabak bangka, dan durian untuk orang dirumah. Ketika perjalanan pulang pun nampak antusias Sadikin bila besok mau ke Singkil lagi. Dia mengajak ke rumah Bibinya yang ada disana, dan bilang akan memperindah bingkai pada bagian kaligrafi. Kami pun sampai di desa tepat saat adzan magrib. Dan tepat pula ketika teman-teman Sadikin berjalan ke musholla tempat mengaji. Mereka pun tampak antusias dan menanyakan Sadikin juara berapa, Ku jawab pengumumannya baru nanti malam. Sepanjang malam ku nanti dan ku tanyakan pada panitia siapa saja yang lolos final. Tapi belum ada pula jawabannya. Keesokan paginya Sadikin sudah menanyakan apakah kami ke Singkil lagi atau tidak, ku jawab bahwa masih belom ada jawaban. Setelah masuk sekolah aku baru mendapatkan pengumuman yang lolos enam besar dan ternyata tak ada nama sekolah kami. Kecewa? Memang sedikit ada, tapi dilain pihak aku bahagia karena bisa mempunyai cerita baru bukan hanya dengan Sadikin tapi mungkin juga dengan murid lain dan guru-guru. Karena lomba kaligrafi baru pertama kali kami ikuti, sebelumnya tidak ada perwakilan dari sekolah kami. Sehingga semoga dari pengalaman kali ini bisa membuka dan memantik siswa dan guru pula untuk mau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat akademik. Dan menumbuhkan kebiasan-kebiasan baik lainnya.
1 Komentar
  • Umaimah
    Great Story! Membawa seorang murid hingga lomba sampai kabupaten adalah hal yang tidak mudah. Mengingat perlunya kepercayaan diri yang juga harus ditanamkan kepada setiap pembimbing. Sukses terus buat Tim Indonesia Mengajar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!